MAU DIBAWA KE MANA PERUSAHAAN INI

Tak Berkategori  Tagged No Comments »

JUDUL tulisan ini mirip bait lagu melankolis yang disenandungkan sendu remaja yang gundah atas percintaan. Hal yang sama juga dihadapi para pensiunan petinggi pos ketika menyimak Undang Undang No. 38 tahun 2009 tentang Pos. Perundangan Pos yang lahir dua tahun lalu tanpa gonjang ganjing, kini menjadi pergunjingan diantara para senior silver corp (Para pensiunan yang berambut keperakan). Mau dibawa ke mana perusahaan ini ?

rpppos-33a
Inilah yang dihadapi para peserta sarasehan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Pos yang dilaksanakan oleh PPPOS Wilayah Khusus Kantor Pusat Bandung pada 8 Juni 2011 di Gedung Wahana Bhakti Pos Bandung.
Dalam Undang Undang ini, Penyelenggaraan Pos dilakukan oleh badan usaha yang berbadan hukum Indonesia. Dan badan hukum itu dapat berupa badan usaha milik negara; dapat berupa badan usaha milik daerah; dapat berupa badan usaha milik swasta; dan dapat pula berupa koperasi. Ada perasaan tidak ikhlas dan terzhalimi dari peserta sarasehan yang tergabung dalam kelas ‘Senja Utama’ harus melihat perusahaan tempat mereka berkiprah dulu disejajarkan dengan penyelenggara pos pendatang anyar yang baru berlaga di beberapa wilayah terbatas.

rpppos-5a
Kepedulian dan sense of belonging dari jajaran PPPOS Wilayah Khusus Kantor Pusat Bandung terusik mana kala melihat perusahaan tempat mereka dulu berkarya diobok-obok. Perlu dilakukan upaya-upaya serius dan sistematik untuk menyelamatkan perusahaan. Oleh karena itu para pensiunan di Wilayah Khusus Kantor Pusat terpanggil untuk menyumbangkan pemikiran melalui sarasehan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Pos. Walaupun demikian kita sadar upaya ini dibentengi kokoh oleh Undang Undang No. 38 tahun 2009 tentang Pos yang nampaknya sulit ditembus. Namun kita yakin do’a orang tua akan membantu perjuangan ini. Dan bila Allah yang maha kuasa mengabulkan doa, tak ada logika manusia yang mampu menjelaskannya.
Bahkan yang menggembirakan di akhir acara sarasehan itu para insan lawas yang berkelas ahli pos mendeklarasikan berdirinya suatu perkumpulan yang akan mengawal dan membela dari rongrongan dan upaya merugikan atau mengkerdilkan perusahaan ini.
Ada hikmah yang dapat diambil dari sarasehan ini, yaitu kepedulian dan kecintaan pensiunan kepada perusahaan tetap tinggi. Pensiunan bukan berarti purna bakti. Pensiunan tetap bisa berbakti di mana saja sesuai dengan kemampuannya. Patut direnungkan yel-yel penyemangat yang dikumandangkan Mayjen (Purn) TNI H.R. Nuriana Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesian (LLI) Jawa Barat yang juga mantan Gubernur Jawa Barat dalam berbagai kesempatan, yaitu…. Purna Tugas….. Yes….!!! Purna Bakti …..No Way…..!!! ***

Karyawan dan Pensiunan Pos Indonesia

Tak Berkategori No Comments »

“PEKERJAAN Yayasan Bunga Kamboja adalah pekerjaan yang mulia, menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan kematian. Dan pada pagi hari ini saya atas nama Direksi dan seluruh jajaran PT Pos Indonesia akan menyerahkan satu bantuan ambulan untuk melengkapi sarana dari Yayasan Bunga Kamboja perwakilan Bandung” demikian disampaikan Ketut Mardjana, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) pada kesempatan penyerahan bantuan kendaraan ambulan dan uang sepuluh juta rupiah kepada Yayasan Bunga Kamboja pada 24 Mei 2011. Hadir dalam kesempatan penyerahan bantuan bertempat di Kantor Yayasan Bunga Kamboja di jalan Gedebage Bandung itu, antara lain Entis Sutisna, Direktur SDM dan Umum PT Pos Indonesia, Manajer PKBL dan pejabat teras PT Pos lainnya, Kapolres Gedebage, Muspika Gedebage, Ketua dan jajaran PPPOS Wilayah Khusus Kantor Pusat dan pengurus Perhajipos.

Tanggung Jawab Sosial.
“Ini merupakan tanggung jawab sosial PT Pos Indonesia, yang notabene merupakan kepedulian bahwa PT pos Indonesia dan masyarakat merupakan satu rangkaian kebersamaan atau satu kesatuan. Bahwa PT Pos Indonesia sebagai suatu institusi bisnis juga memiliki kepedulian sosial yang sangat dalam terhadap lingkungan, komunitas yang ada di sekeliling PT Pos Indonesia, yang notabene PT pos Indonesia ada di seluruh tanah air, di pelosok nusantara sampai ke kecamatan-kecamatan. Mudah-mudahan bantuan ini bisa ditingkatkan sejalan dengan kinerja keuangan PT Pos Indonesia. Syukur alhamdulillah bahwa sejak 2009, 2010 dan kita harapkan untuk tahun-tahun selanjutnya PT Pos Indonesia akan memperoleh laba atau profit, yang dengan demikian, ada yang disisihkan untuk kegiatan sosial ini” tambah Mardjana.
“Perlu kami sampaikan, bahwa untuk dana tanggung jawab sosial atau CSR ini diambilkan dari laba perusahaan. Jadi, oleh karena itu semakin besar keuntungan PT Pos Indonesia maka semakin besar yang akan bisa disisihkan untuk kepedulian sosial ini. Oleh karena itu, kami mohon doa bapak- bapak sekalian, mudah- mudahan PT Pos Indonesia ke depan akan semakin baik , bukan saja bisa mampu meningkatkan dana CSR ini, tapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan para karyawan PT Pos Indonesia dan pensiunan PT Pos Indonesia ke depan” kata Dirutpos.
“Direksi bekerja keras untuk hal ini, bagaimana kita betul-betul mampu untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga besar PT Pos Indonesia, yaitu karyawan dan pensiunan. Dan dari situ kita bisa alokasikan dana untuk kepentingan sosial” tegas Mardjana.
Mardjana berharap bantuan ambulan ini akan bermanfaat untuk meningkatkan layanan kepada anggota Yayasan Bunga Kamboja. Ia juga menjelaskan bahwa PT Pos Indonesia telah banyak melakukan kepedulian sperti ini. Untuk hal yang sama telah diberikan bantuan dalam betuk ambulan juga kepada Yayasan Sekar Kenanga. Ke depan ia berjanji kendaraan yang akan disumbangkan kepada yayasan-yayasan yang sejenis akan lebih baik lagi.
Disamping memberikan bantuan seperti ini untuk yayasan yang menangani masalah kematian ini, Pos Indonesia juga banyak memberikan bantuan yang sifatnya di bidang pendidikan dalam bentuk bea siswa, sarana pendidikan, dan juga untuk lingkungan hidup dalam bentuk penanaman pohon. Bantuan juga diberikan untuk bencana di Aceh, di Yogya dan juga di Jawa Barat. Demikian pula untuk bantuan keagamaan dalam bentuk pembangunan mesjid ataupun yang lainnya, ini merupakan bagian dari tugas PT Pos Indonesia untuk menyisihkan sebagian dari keuntungannya utuk kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial ini, papar Mardjana.
“Sekali lagi saya berharap, walaupun ini namanya bantuan yaitu dalam bentuk satu kendaraan ambulan dan mudah-mudahan akan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada para anggota Yayasan Bunga Kamboja.’’ tukas Mardjana di akhir sambutannya.

Kerjasama dengan PPPOS dan Perhajipos.
Yayasan Bunga Kamboja Pusat berkedudukan di Jakarta. Di Bandung merupakan salah satu perwakilan. Yayasan Bunga Kamboja di Bandung berdiri pada tahun 1988, dan sebelumnya berkedudukan di jalan Gatot Subroto.
“Kami mengucapkan terima kasih terutama kepada bapak Dirutpos yang telah memberikan bantuan” papar H. Suprapto ketua perwakilan Yayasan Bunga Kamboja Bandung.
Selanjutnya Suprapto mengungkapkan : “Dengan pemberian ambulan dari PT Pos Indonesia ini kami merasa sangat terbantu. Untuk anggota yang sakit kami tidak diperbolehkan membawanya ke rumah sakit. Dengan sumbangan mobil ambulan ini, berarti kami menambah satu kemampuan untuk menolong sesama kita. Mudah-mudahan kami dapat memanfaatkan ambulan ini dengan sebaik-baiknya. Kami berjanji untuk memanfaatkan dan memelihara pemberian ini dengan sebaik-baiknya. Mudah2an Allah SWT meridoi maksud kami ini.”
Dibagian lain H. Satimin Abdurachman sebagai Ketua Satgas Pemeliharaan Jenazah PPPOS dan Perhajipos atau Kelompok YBK 120-Pos menuturkan :” Kerja sama dengan Yayasan Bunga Kamboja atas dasar niat dari PPPOS dan Perhajipos untuk dapat memberikan sedikit bantuan bagi angotanya yang sedang menderita musibah. Pada saat itu bulan Mei 2006 kami melaksanakan penandatangan piagam kerjasama. Alhamdulillah sampai saat ini anggota yang bergabung menjadi peserta Yayasan Bunga Kamboja telah mencapai 193 orang ditambah 328 orang keluarga. Total lebih dari 500 orang warga PPPOS Wilayah Khusus Kantor Pusat dewasa ini telah menjadi anggota. “ ***
 tdjuhanda at yahoo.com/tjetjep1951.blogd…

Dari kiri ke kanan : Satimin AR (Ketua Satgas Pemulasaraan Jenazah PPPOS – Perhajipos, Soeprapto (Ketua Harian Yayasan Bunga Kamboja Perwakilan Bandung), Ketut Mardjana (Dirut PT Pos Indonesia) dan Entis Sutisna (Direktur SDM dan Umum PT Pos Indonesia) dengan latar belakang mobil ambulan bantuan PT Pos Indonesia.

Kiprah Cighra Bagi Pensiunan Pos Kantor Pusat

Tak Berkategori  Tagged No Comments »

SELEMBAR media komunikasi lahir prematur di bulan Juni 2008. Media itu bernama Cighra. Media komunikasi pensiunan pos di wilayah khusus Kantor Pusat. Kelahiran Cighra yang dikirim langsung ke rumah para pensiunan ini disambut baik para purnawirawan pos. Namun ada pula yang mencibir, bahwa Cighra tidak lebih sekedar “gertak sambal” kemudian “ko”.
Kenyataan Cighra secara berkesinambungan dua bulan sekali hadir setia mengunjungi para pembacanya. Malah, beberapa kali muncul sebagai edisi khusus.
Tanpa media sederhana ini entah apa jadinya dengan para pensiunan pos Kantor Pusat yang mulai tericerai beraikan ke berbagai titik. Bagaikan sosok yang bangun dari reruntuhan tsunami. Tidak bertemu sahabat dan teman dekat secara mendadak. Cighra mengumpulkan yang terserak dan mempersatukannya kembali. Momentum itulah yang mengharuskan Cighra lahir.
Tampilannya tetap amat bersahaja hanya selembar folio bolak balik dicetak dua warna. Demikian pula isinya setiap penerbitan tediri dari editorial, berita, sidang pembaca, berita duka, obrolan ringan dan karikatur.
Dapur Cighra ingin mengolah media ini dengan santun. Olahan yang disajikan diupayakan akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk. Dengan kata lain berita yang disajikan Cighra netral atau objektip. Fakta yang disampaikan sesuai dengan hati nurani tanpa campur tangan, paksaan dan intervensi pihak lain. Cighra juga berusaha untuk menyajikan informasi yang akurat dan berimbang, yaitu objektip dan semua pihak mendapat kesempatan. Cighra juga tidak beritikad buruk atau tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Media bersahaja ini juga selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Artinya Cighra berupaya memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional dan memegang prinsip tidak menghakimi.
Cighra juga mengetengahkan dan menjaga martabat, wibawa, harga diri dan tidak bisa dibeli atau didikte pihak lain. Oleh karena itu Musyawarah Wilayah Pertama PPPOS Wilayah Khusus Kantor Pusat yang berlangsung bulan Desember 2011 mengamanatkan agar Cighra dipertahankan. Pengurus PPPOS Wilayah Khusus Kantor Pusat kemudian menerbitkan Surat Keputusan sebagai tindak lanjut Keputusan Muswil yang menetapkan Cighra sebagai media komunikasi pensiunan pos wilayah khusus kantor pusat.
Media komunikasi pensiunan ini juga akan segera mencabut, meralat dan memperbaiki informasi yang keliru disertai permohonan maaf kepada para pembaca. Hal ini dilakukan baik ada maupun tidak ada teguran pihak lain. Di samping itu Cighra juga melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Ruang dalam Cighra terbatas. Berbeda dengan majalah atau buku yang memiliki ruang lebih luas. . Pembaca media ini adalah para pensiunan, berbeda dengan surat kabar atau majalah umum yang memiliki pembaca yang beragam. Oleh karena itu ukuran huruf menjadi pertimbangan dan semakin sulit untuk menyajikan informasi yang lengkap.
Cighra berharap dapat mengedukasi pembacanya, tidak menghasut, tidak memfitnah, tidak memojokkan siapapun. Oleh karena itu koki di dapur Cighra harus jujur, jernih dan memiliki hati nurani. Media ini juga hendaknya mampu menahan diri, tidak arogan dan angkuh.
Dalam melaksanakan tugasnya, awak Cighra hendaknya berpegang pada salah satu firman Allah SWT, yaitu :

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Al Baqarah:42)
Ada baiknya di masa depan Cighra dapat dan mampu menerbitkan Cighra media on line yang dapat menyajikan informasi lebih cepat dan lebih luas. Pensiunan pos yang baru pensiun tahun ini dan seterusnya adalah generasi pensiunan cyber, maka perlu dipersiapkan media cyber untuk mereka. Mereka bisa posting pendapat, komentar atau respon ke medianya seketika, tidak perlu menunggu dua bulan kedepan. Dirgahayu Cighra. ***
 tdjuhanda at yahoo.com

WASITO MIHARDJO FAMILY GATHERING

Tak Berkategori 1 Comment »

kolam3

Puja, puji dan syukur kehdirat Allah SWT atas karunia dan nikmat yang diberikan kpada kita sekalia. Alhamdulillah atas ridho Allah SWT, Keluarga Besar Wasito Mihardjo pada hari Miggu 19 September 2010 berkumpul di Vila Damos di wilayah Ciwaruga Bandung. Tempat yang asri dan sejuk cukup memberikan suasana yang nyaman bagi 50 orang anggota keluarga besar Wasito Mihardjo. Harapan keluarga semua semoga saja setelah selesai digembleng satu bulan di bulan Ramadhan menjadikan kita lebih baik ibadahnya, baik dilihat dari wasito-23habluminallahnya maupun habluminanasnya. Artinya sholat dan ngajinya semakin baik. Demikian pula hubungan antar manusia saling memaafkan, tidak jadi pemarah, tidak suka fitnah, tidak suka ngomongin orang lain, tidak sombong tidak takabur, tidak ngatur orang lain. Minta ampun kepada Allah tinggal taubat nasuha, beres. Minta ampun yang ada kaitan dengan hubungan manusia, tidak gampang harus minta maaf dulu kepada orang yang disakiti.
Memang tidak mudah mengumpulkan seluruh anggota yang sudah tersebar baik di dalam dan luar negeri. Beruntung seorang anggota keluarga yang sedang menuntut ilmu di Malaysia dapat hadir bersama. Perwakilan anggota dari Malang dan yang tengah menuntut ilmu di Yogyakarta juga bisa berkumpul bersama. Demikian pula keluarga dari Jakarta, Serang, Cipanas dan Bandung dapat hadir.wasito-45a
Cuma sayang acara yang di undangan akan dimulai pukul 10.00 terpaksa molor jadi pukul 12.00. Hal ini karenakan menunggu keluarga yang terjebak kemacetan arus balik, dan kebingungan mencari lokasi acara yang agak ngumpet. Jangankan yang dari luar kota, yang dari Bandung sendiri tidak gampang untuk mencapai tempat tersebut, sekalipun di undangan sudah dicantumkan denah lokasi. Tapi hal tersebut tidak jadi masalah dan menjadi dinamika pertemuan keluarga besar ini. Bahkan keluarga dari Cipanas baru hadir setelah acara mau selesai, tetapbisa bergabung dan bersilaturahim.
Apapun yang terjadi hari itu, itulah dinamika dan romantika berkumpulnya suatu keluarga yang telah tersebar dengan berbagai kesibukannya sendiri-sendiri. Yang pada awalnya datang cemberut dan terengah-engah kecapekan serta mojok sendiri-sendiri, akhirnya bergabung membaur. Tidak ada perbedaan status. Semua dengan amical dan santun dilandasi hati yang bersih menjadikan keluarga besar ini demikian solid.wasito-47a
Acara yang dimulai bada dhuhur menunggu sebagian besar anggota keluarga hadir, toh tetap berjalan lancar, sekalipun ada masalah teknis karena sound system tidak jalan. Akhir pembawa acara mesti tarik urat leher agar suara terdengar semua anggota kelurga yang tersebar di sekitar tempat itu. Untungnya sound sytem segera dapat diatasi, sehingga acara dapat berjalan dengan baik. Untuk mencairkan kekakuan antar keluarga dan antar generasi, dibikin acara pasangan suami isteri memasukan bola dari balik baju dan dikeluarkan dari ujung celana. Lumayan acara yang kelihatan setengah resmi mulai semarak. Ketawa lepas pun terjadi. Malah ada yang ngompol segala barangkali. Doorprize juga mulai dibagikan.wasito-49a
Di acara ini juga kebetulan salah seorang anggota keluarga, Pingkan tengah berulang tahun, maka acara tiup lilin dan bernyanyi happy birthday dan selamat ulang tahunpun menggema. Yang remaja bergaya shinta dan jojo seperti di keong racun. Selanjutnya acara silaturahmi saling bersalaman dan menuju tempat kuliner menjadi acara yang semarak. Masakan dengan resep timur tengah dikawinkan masakan Eropah dicampur makanan sunda plus resep yogya dan surabaya ini diserbu keluarga dan menjadi santapan siang yang melegakan tenggorokan dan perut. Asyik surasik kalau urusan manyuus bikin suasana tambah meriah. Apalagi hidangan yang rasanya endang gulindang bikin lidah ketagihan. Ditambah lagi sambal yang rasanya juga hot jeletot bikin mulut panas kaya knalpot dan terus komat kamit.
Di acara makan siang ini mulai mengelompok berdasarkan generasi. Yang anak-anak berkumpul dengan anak-anak. Yang remaja bergabung dengan yang remaja. Yang dewasa dengan yang dewasa. Dan yang sudah tua dengan yang sudah tua. Mereka bicara dunianya masing-masing. Pendek kata berbaurlah semua generasi, dari generasi blek kurupuk sampai blackbarry.
Kakek, nenek,Bapak dan ibu yang senior di keluarga besar ini mengajarkan kepada kita yang muda-muda jiwa syukur dan jiwa sabar dalam hidup. Tetapi jiwa syukur dan sabar saja ternyata tidak cukup. Kita harus memahami sebuah dimensi.Manusia itu terikat oleh dimensi ruang dan dimensi waktu. Jadi kita ini terikat oleh dimensi ruang. Kita tidak mungkin berada di ruang yang sama dalam satu waktu. Dan kita pun terikat oleh dimensi waktu. Kita sadari sekarang ini kita berada di kendaraan raksasa yg bernama bumi yang kecepatannya 100.000 km/jam mengitari matahari. Matahari juga bergerak diatara bintang-bintang sekitar 800.000 km/jam. Jadi kita ternyata diam, tapi diamnya kita itu ada pergerakan. Oleh sebab itu bagaimanapun manusia itu terikat oleh dimensi ruang dan dimensi waktu. Dimensi ruang dan dimensi waktu itulah yang akan menentukan kualitas diri kita. Yaitu bagaimana kita mengisi ruang yang kita miliki dan waktu yang kita miliki. Oleh karena itu Rosulullah dalam hadisnya ketika beliau akan wafat, menjelang wafat beliau berwasiat kepada kita semua. Setiap manusia harus wasito-71amempertanggung jawabkan empat hal dalam hidupnya. Dia akan dimintai pertanggungan jawab dari umurnya itu dihabiskan untuk apa. Kata-kata umur dihabiskan untuk apa, menunjukkan bahwa manusia terikat oleh dimensi waktu. Kita bersyukur di sini ada yang berusia 70 tahun, 80 tahun dalam kondisi yang masih sehat. Tapi ada pula yang usia 50 tahun atau 30 tahu, 10, 3 tahun tidak apa-apa. Karunia yang luar biasa. Allah masih memberikan sebuah dimensi waktu.
Umur manusia berakhir dalam tiga misteri. Waktu yang kita miliki akan berakhir dalam tiga misteri. Yang pertama misteri waktu. Yang kedua misteri sebab. Yang ketiga misteri tempat. Dalam akhir usia kita akan dihadapkan kepada tiga misteri itu. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan waktu kematian itu.wasito-76a
Meraih kesuksesan dengan merajut masa mudanya dengan kerja keras. Tidak mungkin kesuksesan diraih dengan gratisan. Dalam kitab suci Al Quran sebuah kesuksesan itu harus dilewati dengan kerja keras, tetesan air mata dan doa. Jadi tidak ada kesuksesan gratisan. Dalam al Quran dikatakan bekerja keraslah, berjuanglah, berikhtiarlah nanti kamu akan melihat bagaimana ikhtiar kamu. Ingat tugas kita itu ikhtiar. Sukses itu wilayah Tuhan. Wilayah kita itu ikhtiar.
Ketika masa muda itu kita lewati dengan kerja keras, semoga kalau Allah memberikan umur yang panjang , maka bagian umur panjang itu akan menjadi kesuksesan kita waktu muda. Kata Nabi setiap orang akan diminta pertanggung jawaban masa mudanya dihabiskan untuk apa.
Yang ketiga setiap orang akan diminta pertanggung jawaban amanah harta yang ada di genggamannya. Itu dipergunakan dan dihabiskan untuk apa. Harta itu dalam konsepsi agama manapun pasti dianggap titipan. Bagaimana kita menggunakannya. Bisa untuk kebaikan, bisa untuk keburukan. Ketika kita dikarunia harta maka sesungguhnya dia amanah. Ketika kita dikaruniai jabatan sebenarnya amanah. Ketika dikaruniai kecerdasan sebenarnya amanah. Segala kenikmatan dalam genggaman kita sesungguhnya amanah.
Keempat seberapa jauh ia berikhtiar mengasah intelektualnya dengan ilmu. Melewati hari-harinya dengan belajar. Tidak ada kesuksesan tanpa proses pembelajaran. Dalam al Quran ayat yang menyuruh kita untuk belajar berjumlah 907 ayat padahal ayat yang menyuruh kita shalat hanya 84 ayat. Berati seluruh ibadah yang kita lakukan basisnya harus ilmu. Menurut para ahli bangsa kita belum menjadi learning society (belum menjadi bangsa pembelajar) Masyarakat kita baru menjadi Listening Society waktunya habis untuk mendengar, tapi mendengarnya bukan bersifat ilmu.
Tidak ada kesuksesan tanpa kekuatan doa. Dibalik atas segala kesuksesan kita, ada kekuatan doa. Dalam usia muda sudah sukses, itu pasti dengan kerja keras. Tapi kerja keras saja tidak mungkin, tentu ada untaian doa orang-orang yang menyayanginya. Kalau Allah sudah mengabulkan doa-doa kita maka seluruh logika manusia susah untuk menjelaskannya
Setelah acara makan dilanjut dengan acara bebas. Ada yang nyebur di kolam renang. Ada yang main ayunan. Ada yang main bilyar. Ada juga yang ngobrol ngerumpi membedah pengalaman ke belakang dan menerawang jalan ke depan.
Acara foto bersama juga jadi bagian yang menarik. Jumlah anggota keluarga begini besar diupayakan bisa masuk dalam satuframe. Akhirnya para fotografer mundur menjauh. Ya lumayanlah bisa masuk semua sekalipun kelihatan seperti semut bergerombol. Malah sudah banyak saling mendahului muncul di facebook……lomba foto nih ya.
Foto ini jadi potret diri masing-masing. Ada yang dulu cantik dan gagah sekarang sudah tua dan jelek. TOP tua, ompong dn peot. Ada yang dulu bayi sekarang beranjak jadi remaja yang cantik dan gagah. Ada lagi generasi balita yang sedang lucu-ucunya digendong jadi rebutan bibi dan neneknya kaya piala bergilir.
Berikutnya masih ada lagi acara pembagian door prize dengan syarat selain dikocok nomor juga harus bisa menjawab pertanyaan dari pembawa acara. Acara kecil ini memang bikin lengket dan saling dukung mendukung. Seperti ada pertandingan Persib, sang bobotoh kasih semangat. Doorprize ini buanyak, banjir deh. Ada yang lupa, yaitu dinasty Wasito ini udah banyak yang ora iso lan ora ngertos boso jowo…weleh weleh….bablas tukulne lan katrone.
Tidak ada pesta yang tidak selesai. Family gathering ini harus berakhir. Masing-masing keluarga berkemas untuk kembali ke rumah masing-masing. Hari akan berganti, namun kenangan keakaban kelurga akan tetap lestari. Besok tugas sudah menanti, kembali ke tempat kerja, kembali ke sekolah dan kembali ke kegiatan masing-masing dengan harapan Allah SWT memberikan kita usia dan kesempatan untuk bertemu dan merajut silaturahim dengan jumlah yang hadir lebih banyak lagi di waktu yang datang. ***

Catatan Perjalanan : Mengikuti PTTI World Congress di Tokyo

Kenangan  Tagged , 1 Comment »

Ketika Ketua Umum SSPTT (Serikat Sekerja Pos Telegrap dan Telepon), Sabaruljaqin menawari penulis untuk menjadi utusan pada PTTI (Post Telegraph and Telephone International) World Congres di Tokyo Jepang 16 – 22 September 1981, penulis menyatakan bersedia. Penulis sangat sadar atas segala resiko, pemerintah Orde Baru melarang semua kegiatan Serikat Pekerja, kecuali KORPRI. Perusahaan pun tidak mungkin memberikan izin pegawainya untuk menghadiri kongres serikat pekerja pos dan telepon sedunia itu. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
jepang1aPenulis mencoba mengadakan pendekatan dengan sebuah media massa yang biasa memuat tulisan penulis. Penulis mengungkapkan kesulitan sebagai pegawai perusahaan untuk ikut pada kegiatan serikat pekerja itu. Untuk itu penulis minta bantuan dibuatkan surat keterangan sebagai penulis dari media masa itu. Dengan bekal surat keterangan dari media masa itu penulis mengurus pembuatan paspor. Kepada petugas Imigrasi penulis menyampaikan bahwa akan mengadakan perjalanan jurnalistik pariwisata ke Jepang. Bahkan tanpa proses wawancara paspor pun beres tanpa bertele-tele.
Bertemu Utusan lain di pesawat.
Selanjutnya penulis mengurus visa ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk kunjungan ke negara itu. Cuti tahunan dengan alasan ada keperluan keluarga, penulis peroleh dengan mudah. Sebagai pegawai golongan satu (Gol. Id) rasanya penulis luput dari perhatian akan berjuang di tingkat dunia. Kalau ketahuan dan berurusan dengan pihak yang berwajib adalah resiko perjuangan yang harus ditanggung, pikir penulis. W. Th. Soeharto Bc.A.P. Kepala Urusan tempat penulis kerja, pulangnya baru dikasih tahu. Soalnya ini misi rahasia yang penulis emban, untuk memperjuangkan nasib karyawan ke tingkat dunia.
Perjalanan ke luar negeri sendirian bukan hal yang sulit. Masalah yang dihadapi bagaimana berkomunikasi di negeri Sakura itu. Berbagai literatur mengenai Jepang penulis baca. Paling-paling pake bahasa tarzan, begitulah pikir penulis waktu itu.
Ketika itu penerbangan bagi warga negara Indonesia wajib menggunakan Garuda. Oleh karena itu penulis menggunakan Garuda dari Jakarta ke Singapura. Selanjutnya dari Singapura ganti dengan pesawat JAL ke Tokyo. Di atas pesawat JAL dari Singapura ke Tokyo penulis bertemu dengan beberapa utusan ke Kongres ini, diantaranya utusan dari Srilangka, New Zealand, Australia, Malaysia dan Singapura. Pertemuan dengan beberapa utusan di atas pesawat itu cukup membesarkan hati penulis.
Dengan penerbangan DC -10 selama delapan jam non stop, akhirnya kami mendarat dengan selamat di airport Narita. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi dengan pengambilan bagasi, kami disambut oleh panitia kongres di airport dan diantar dengan bus ke hotel Imperial dan hotel Shimbashi Daichi di Tokyo. Dalam bus ini kami juga bertemu dengan peserta dari berbagai negara lain.
Solidaritas sesama serikat pekerja.
Penulis ditempatkan di hotel Daichi tidak terlalu jauh dari Hotel Imperial tempat berlangsungnya Kongres Dunia PTTI ini. Begitu masuk kamar hotel, penulis mandi, pakai kimono, minum ocha (teh hijau) dan istirahat sebentar. Selanjutnya pergi ke lobby mencari teman ngobrol.
Pada waktu itu penulis kagum dengan pemerintah Jepang yang memberikan kebebasan kepada Serikat Pekerja dan Serikat Buruh melakukan kegiatannya. Rasanya penulis tidak ada rasa takut untuk berbicara masalah perjuangan pekerja di negeri ini. Sedangkan perjuangan pekerja di tanah air waktu itu benar-benar dikontrol pemerintah.
Beberapa utusan dari berbagai negara siap membantu perjuangan SSPTT. Mereka siap mendukung melalui kerja sama dengan serikat pekerja transportasi dan penerbangan untuk memboikot kiriman pos dari dan ke Indonesia. Penulis masih berkelit untuk membicarakan dulu dengan pengurus SSPTT. Masih ada kekhawatiran penulis ditangkap penguasa waktu itu. Kalau ditangkap, perjuangan terus berhasil sih mending, kalau ditangkap perjuangan terus terhenti ya sia-sia.
Kongres itu berjalan panas dengan isu-isu pergerakan serikat pekerja di beberapa negara. Utusan dari Polandia termasuk utusan yang paling demonstratip ketika itu. Mereka minta dukungan dan bantuan untuk perjuangan pekerja dan buruh di Polandia menghadapi pemerintahan tirani mereka.
jepang2a1Suatu malam pengurus Zentei (Serikat Pekerja Pos Jepang) dan Zendenstu (Serikat Pekerja Telekom Jepang) datang ke kamar penulis. Mereka mengajak minum di sebuah kafe. Kami bicara panjang lebar mengenai keadaan kesejahteraan dan perjuangan masing-masing. Salah seorang dari mereka, Eiji Onnishi yang menjadi penterjemah ke bahasa Inggeris, menyatakan rasa simpati mereka atas perjuangan SSPTT. Bahkan bila perlu mereka dapat berbicara langsung dengan wakil pemerintah Indonesia. Tapi saya bilang rasanya sulit, pemerintah hanya mau bicara dengan KORPRI sebagai wadah tunggal pegawai negeri. Bahkan Onnishi bilang kalau perlu mereka desak pemerintah Jepang untuk menghentikan bantuan keuangan kepada Indonesia agar gerakan serikat pekerja diperhatikan.
Melihat museum bom atom.
Di akhir Kongres semua peserta diajak rekreasi ke Matsuyama, Hirosima dan Kyoto. Perjalanan ke Matsuyama dilakukan dengan menumpang pesawat ANA (All Nippon Ailines) perusahaan penerbangan domestik Jepang.
Di Matsuyama seluruh peserta diajak melihat berbagai perusahaan. Di sini juga dilakukan pertemuan dengan pengurus serikat pekerja setempat dan bicara mengenai kesejahteraan pekerja.
Hari berikutnya kami diajak melihat Museum Korban Bom Atom Hiroshima. Museum ini memberikan pelajaran bagaimana penderitaan korban bom atom. Semua luluh lantak rata dengan tanah. Hannya ada satu bangunan berupa kubah yang masih tetap berdiri hingga kini. Kubah itu diberi nama Peace Dom (Kubah Perdamaian).
Kyoto kota tujuan kami berikutnya. Di sini juga kami melakukan pertemuan dengan wakil-wakil pengurus serikat pekerja setempat. Mereka bercerita mengenai pergerakan serikat pekerja di masing-masing perusahaan. Serikat pekerja di sana cukup kuat dan mereka membayar lawyer (penasihat hukum) dalam membela anggota yang terkena masalah hukum. Keuangan serikat pekerja di sana cukup kuat dan semuanya berasal dari iuran anggota. Mereka menolak bantuan fasilitas dan materi dari perusahaan.
Malamnya penulis menelepon Katushiro Inoue, seorang teman yang pernah datang ke Indonesia. Ia datang ke hotel dan mengajak jalan ke kafe. Ia muda dan enerjik. Ia mengemukakan keinginannya untuk membuka usaha di Indonesia. Dan keinginannya itu benar-benar diwujudkan. Beberapa tahun kemudian ia membangun hotel dan artshop di Bali. Ia juga memiliki travel biro di Jepang dan mengkordinir perjalanan wisatawan Jepang yang berangkat ke Bali.
Keesokan harinya kami kembali ke Tokyo dengan menumpang Shinkasen, yaitu kereta api cepat yang dikenal dengan sebutan bullet train (kereta peluru). Kereta ini berjalan sangat cepat bagaikan pesawat. Kontruksi kereta ini juga seperti pesawat dengan pintu antar gerbong otomatis dan kaca jendela berlapis ganda. Namun kereta ini sangat nyaman dan tidak berisik karena dindingnya kedap suara.
Keesokan harinya kami masing-masing check out dari hotel, berangkat ke airport Narita terbang ke negaranya masing-masing. Di pesawat ada perasaan gelisah dan khahawatir kegiatan penulis diketahui pemerintah Orde Baru. Dan setelah mendarat serta pemeriksaan dokumen di airport , alhamdulillah aman-aman saja.
Itulah sepenggal catatan perjalanan yang tidak mungkin penulis lupakan. ***

 tdjuhanda at yahoo.com
 http://tjetjep1951.blogdetik.com

Sir Rowland Hill dan The Penny Black

Filateli  Tagged No Comments »

Di Kidderminster, Inggris tinggallah keluarga yang bernama Thomas Wright Hill, bersama istri dan anak-anaknya. Keluarga tersebut memiliki enam anak laki-Iaki dan dua anak perempuan. Salah satu dari anak laki-laki tersebut bemama Rowland Hill. la dilahirkan pada tanggal 3 Desember 1795
Rowland Hill sejak kecil merasakan pahit dan getirnya hidup dalam kemiskinan. Namun ia masih sempat memanfaatkan waktu senggangnya untuk membaca buku-buku yang berisi dongeng anak-anak berisikan pendidikan yang di karang Miss Edgeworth. Isi buku tersebut sangat menarik perhatiannya dan mempengaruhi pemikirannya. Kemungkinan besar hal inilah yang mengantarkan dan mengembangkan dirinya di kemudian hari memberikan sumbangan yang besar dan bermanfaat bagi umat manusia.

“Hazlewood”.
rhill2Pandangan yang luas serta keteguhan yang dimiliki ayahnya, digabung kecerdasan, kesabaran serta ketelitian yang dimiliki oleh ibunya terpadu dalam diri Rowland Hill. Bahkan sejak berusia sebelas tahun Rowland Hill telah membantu ayahnya dalam bidang pendidikan. Pada usia tiga puluh satu tahun Rowland Hill pindah dari Birmingham ke suatu London. Bersama salah seorang saudaranya, Rowland Hill mendirikan sebuah sekolah di Bruce Castle di Tottenham.
Rowland Hill mencoba menjadi guru mengikuti jejak ayahnya. Dalam kariernya sebagai guru Rowland Hill memperkenalkan suatu sistem mengajar yang disebut “Hazlewood”.
Pada saat itu atas rencana EG Wakerfleld, mendirikan sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk membuka jajahan di daerah baru. Rowland Hill aktif dalam perkumpulan tersebut. Rancangan dari EG Wakerfield diterima oleh Parlemen. Rowland Hill diangkat menjadi sekretaris. Selama empat tahun Rowland Hill telah mencurahkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan perkumpulan tersebut. Di samping itu ia memanfaatkan waktu senggangnya untuk menciptakan mesih cetak, karena sejak masa mudanya ia gemar menggunakan alat dan perkakas, serta mencoba membuat bermacam-macam mesin. Walaupun mesin cetak temuannya itu belum pemah dipakai seluruhnya.
Selain menekuni bidang teknik, Rowland Hill juga menekuni ilmu administrasi dan perpajakan. Pada waktu mempelajari bidang perpajakan inilah timbulnya suatu gagasan untuk memperbaiki sistem keuangan Dinas Pos Inggris. Pada tahun 1830 negara Inggris berkembang menjadi negara industri. Transportasi mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Jalan kereta api mulai membentang dari Barat ke timur dan dari Utara ke selatan. Rowland Hill memikirkan bagaimana mendapatkan pemasukan uang kas kerajaan dari pajak pengiriman surat-surat. Hal tesebut disebabkan karena banyak surat yang biayanya tidak tertagih.
Pikiran Rowland Hill terganggu adanya pemberian hak anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi dalam parlemen untuk mendapatkan pemasukan uang untuk kerajaan dari pajak pengiriman surat oleh penerima. Hal tersebut merugikan dunia pos. Menurut pendapatnya hal tersebut sebagai pemborosan dan sangat merugikan kas kerajaan.
Pada tahun 1837 Rowland Hill mengajukan usul ke parlemen, yang antara lain mengemukakan hal-hal bahwa ongkos pengiriman surat harus diturunkan. Dengan turunnya ongkos pengiriman surat diharapkan terjadi peningkatan volume pengiriman surat. Untuk lebih merangsang masyarakat dalam hal surat menyurat, perlu adanya keseragaman tarif pos dengan tidak memandang jarak tempuh surat. Sedangkan untuk menghindari penyalahgunaan dalam bidang surat menyurat, biaya pengiriman surat harus dibayar dimuka dengan menempelkan carik pelunasan, yaitu prangko.
Pemikiran Rowland Hill menjadi dasar teori ekonomi. Rupanya hal ini menimbulkan pertentangan di kalangan anggota Parlemen. Empat tahun kemudian, yaitu pada tahun 1840 usul Rowland Hill diterima Parlemen. Kemudian lahirlah prangko, carik kertas mungil yang dipakai sebagai biaya pelunasan pengiriman surat. Tidak berlebihan apabila Rowland Hill kemudian mendapat julukan sebagai “Bapak Prangko Dunia”.
Walaupun sudah berhasil dengan idenya tersebut Rowland Hill tidak pemah berhenti untuk berpikir dan berusaha. Pada tahun 1842 ia ditunjuk menjadi presiden “Brighton Railways Company”, ia mengemukakan ide yang cemerlang berupa layanan kereta api ekspress dan tiket perlawatan. Perkembangan perkereta apian dewasa ini banyak dilatar belakangi oleh gagasan Rowland Hill tersebut.
Rowland Hill yang bukan orang dinas pos kemudian pada tahun 1846 ditunjuk menjadi sekretaris “Pos Master General”. Dan antara tahun 1854 - 1856 Rowland Hill mendapat kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Sekretaris Perusahaan Jawatan Pos, suatu kedudukan yang tinggi pada waktu itu. Pada tahun 1860 Rowland Hill menerima penghargaan tinggi dengan gelar “Knight”. Atas jasanya yang tidak ternilai putra keluarga pendidik yang sangat kreatif dan inovatif itu diberi gelar bangsawan dan berhak menggunakan gelar ‘Sir’ di depan namanya. la diangkat sebagai orang yang berhasil dan berbuat sosial tingkat nasional. Pada tahun 1864 ketika ia pensiun, Parlemen memberikan hadiah dua puluh ribu poundsterling dan berhak setiap tahunnya menerima pensiun sebesar dua ribu poundsterling.
Rowland Hill, Bapak Prangko dunia, meninggal di Hampstead pada 27 Agustus 1879 dan dimakamkan dengan upacara kebesaran nasional di Westminster Abbey.
The Penny Black
Prangko pertama diterbitkan di Inggris pada tanggal 6 Mei 1840 dan merupakan prangko pertama DI dunia. Prangko tersebut memiliki ciri-ciri memuat gambar kepala Ratu victoria, dicetak dalam wama hitam ,memuat kata POSTAGE di sebelah atasnya, dan memuat kata-kata ONE PENNY di sebelah bawahnya. Prangko ini di kalangan filatelis dikenal dengan sebutan “The Penny Black”. Kemudian dicetak pula prangko serupa dengan wama biru dengan nilai nominal 2 pence. Namun orang lebih mengenal “The Penny Black” sebagai prangko yang pertama lahir di dunia.
pennyblack2Sebelum lahimya prangko, surat menyurat antara seseorang dengan orang lain telah berjalan di berbagai belahan dunia. Pada waktu itu yang membayar biaya pengiriman surat adalah si penerima surat. Hal tersebut tentu saja akan merugikan dinas pos apabila si penerima surat tidak mau membayarnya. Gagasan Sir Rowland Hill timbul secara kebetulan ia melihat seorang pengantar pos menyerahkan sepucuk surat kepada seorang gadis. Gadis tersebut tidak mau menerima surat tersebut dengan alasan tidak mempunyai uang setelah membolak-balikkan sampulnya. Sir Rowland Hill kemudian menghampin gadis tersebut dan menanyakan mengapa ia mengembalikan surat tersebut kepada pengantar pos. Gadis itu menerangkan bahwa surat itu datang dari kekasihnya. Tanpa membuka sampulnya ia sudah tahu isi suratnya, karena di atas sampul itu terdapat tanda-tanda yang hanya diketahui oleh mereka berdua saja. Dengan demikian mereka dapat mengelabui dinas pos dan dapat saling berkirirn surat tanpa mengeluarkan biaya apapun.
Dari peristiwa itu kemudian pada tahun 1840 atas usul Rowland Hill, biaya pengiriman surat harus dibayar terlebih dahulu oleh pengirim surat dengan tanda bukti pelunasan berupa carik kertas kecil yang disebut prangko. Dengan demikian dinas pos tidak dirugikan lagi.
Bukti pelunasan biaya pengeposan berupa secarik kertas bergambar memuat nama negara yang menerbitkan nilai nominal tertentu dan tahun penerbitannya dalam bahasa Inggris disebut “postage stamp” atau “stamp”. Sebutan prangko berawal dari penggunaan teraan cap “FRANCO” oleh dinas pos Hindia Belanda yang menandakan bahwa pengiriman telah melunasi biaya pengeposan sehingga penerima surat tidak perlu membayar lagi. Setelah pemerintah Hindia Belanda menerbitkan prangko tanggal 1 April 1864 temyata teraan cap franco tetap dipertahankan. Kata “franco” kemudian disesuaikan
ucapan Indonesia yaitu “prangko” untuk menyebut prangko yang dikenal sehingga saat ini.
Prangko pada hakekatnya adalah secarik kertas bergambar yang diterbitkan pemerintah yang pada bagian depannya memuat nama negara yang menerbitkannya serta nilai nominal tertentu. Hinggga sekarang hanya inggeris satu-satunya negara yang boleh menerbitkan prangko tanpa nama negara sebagai penghargaan dunia kepada Sir Rowland Hill. Prangko dimaksudkan sebagai tanda pelunasan biaya pengeposan. Prangko di Indonesia diterbitkan oleh Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi yang bertindak atas nama pemerintah Indonesia.
Dengan menempelkan prangko pada sepucuk surat berarti biaya pengiriman surat tersebut telah dilunasi oleh pengirim pos. Konsekuensinya Dinas Pos berkewajiban menyampaikan surat tersebut kepada alamat di tempat tujuan. ***

Anda ingin benda filateli gratis ….??
Agak repot juga menangani benda filateli yang terlalu banyak bahkan sebagian mulai kena trofis dan diserang tikus. Saya ingin membagikan sebagian benda filateli ini dengan cuma-cuma. Kepada para filatelis akan saya kirimkan antara lima sampai sepuluh benda filateli berupa prangko/SS/SHP/SP/IRC/PS dll. Siapa tahu benda filateli tersebut dapat melengkapi koleksi anda. Kirimkan sampul berprangko yang bagian depannya memuat nama dan alamat anda untuk pengiriman benda filatreli tersebut.

Catatan Perjalanan : Masuk Black Market di Taiwan

Filateli  Tagged No Comments »

TAIWAN atau Republik Cina yang juga dikenal dengan Cina Nasionalis adalah suatu kawasan terdiri dari Pulau Formosa, kepulauan Penghu, Quemoy dan Kepulauan Lau Hsu. Bedasarkan sejarahnya taiwan dijajah Oleh Portugis, Belanda dan Jepang. Negeri ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Untuk mendapatkan visa masuk ke Taiwan penulis mengajukan ke Perwakilan Perdagangan Taiwan di Jakarta.taiwan21

Tahun 1993 penulis dan Suwanto, Kepala Bagian Filateli saat itu melakukan perjalanan ke negeri pelarian Chiang Kai Shek itu. Diawali perjalanan Bandung – Jakarta menumpang kendaran Kijang Super dikemudikan sopir. Awalnya perjalanan berjalan mulus tanpa hambatan di pagi buta itu. Sayang memasuki Jakarta kemacetan menghadang. Maklum waktunya orang masuk kantor.
Jalan tol dalam kota tidak jauh berbeda. Kami mencoba ke luar tol. Tapi sama juga dihadang kemacetan. Jantung kami berdenyut kencang takut terlambat tiba di airport Cengkareng. Alhamdulillah pas-pasan, begitu tiba langsung boarding ke pesawat.

Singapura dan Hongkong.
Sekitar empat puluh menit penerbangan, pesawat turun di Airport Changi Singapura. Sambil menunggu penerbangan berikutnya menuju Hongkong kami beristirahat di airport itu. Sebetulnya ada bus city tour untuk jalan-jalan di negeri itu, tapi takut terlambat, kami hanya menunggu di bandara itu.
Satu jam kami cuci mata di airport yang elok ini, kami melanjutkan penerbangan. Penumpang jurusan Hongkong ini cukup padat. Gaduhnya bukan main seperti di pasar. Bahkan mereka naik pesawat tak ubahnya seperti naik angkot, cukup sandalan saja. Kami dan beberapa orang yang berpakaian agak rapih nampak agak aneh di antara mereka.
Tiba di Hongkong lebih sibuk lagi. Airport di sini tak ubahnya seperti terminal bus. Suwanto geleng-geleng kepala melihat kesibukan di sini. Di samping itu keamanan di Hongkong sangat ketat. Kami diperiksa dengan teliti. Isi kantong baju dan celana harus kami tunjukkan kepada petugas. Ketika melihat rokok kretek yang penulis bawa, petugas menatap tajam bak akan menelannya, rokok di bolak-balik lantas diendus. Aroma cengkeh mengundang kecurigaannya. Penulis bilang itu rokok kretek yang dibuat dari campuran tembakau dan cengkeh. Agak lama dan pandangan tetap curiga akhirnya kami lolos dari pintu pemeriksaan.

Daging Babi
Setelah beberapa saat istirahat di “terminal” ini, kami meneruskan perjalanan ke Taiwan. Penerbangan ke Taipei, ibukota Taiwan tidak memakan waktu terlalu lama. Tiba di Airport Chiang Kai Shek kami melapor kepada petugas pameran filateli yang bertugas di airport. Ternyata sang petugas tidak mau menangani kami, karena bukan komisioner atau juri filateli. Menurut mereka kami sebagai peserta booth harus mengurus sendiri.
Akhirnya kami mengalah, kami hanya minta tolong dicarikan taksi ke hotel. Sang petugas mengiyakan dengan catatan bayar sendiri. Penulis teringat pameran di tanah air, semua tamu baik komisioner, jury maupun peserta booth, kami jemput dan kami tempatkan di hotel dengan tanggungan panitia.
Di hotel, kami masih juga direpotkan dengan urusan arah kiblat. Petugas hotel bingung ditanya arah kiblat. Akhirnya kami pasrah untuk shalat menghadap arah yang kami yakini arah kiblat. Yang penting jangan sampai tidak shalat, mudah-mudahan Allah SWT mengampuni kami.
Keesokan harinya kami mencari sarapan di luar hotel. Makanan Cina rasanya tidak familiar dengan lidah kami. Malah ada perasaan curiga kalau makanan itu mengandung bahan yang diharamkan oleh agama kami. Akhirnya kami nongkrong di kedai bubur ayam di kaki lima.
Awalnya kami tanya kepada seorang pelayan, apakah bubur ini menggunakan daging babi. Sang pelayan setelah tanya sama temannya bilang bahwa bubur itu tidak menggunakan daging babi. Kami langsung makan bubur itu. Belum habis bubur dimakan, penasaran penulis tanya lagi pada pelayan yang lain. Kami terkejut ketika pelayan itu menjawab bahwa bubur itu diberi potongan kecil daging babi. Kontan kami berhenti makan, bayar dan berlalu dari sana.
Siangnya kami berbagi tugas. Suwanto menunggu di booth sambil membereskan pajangan. Penulis harus ke airport untuk menjemput Ismu Sugianto, Kepala Subdit bemfilpos yang tiba siang itu. Agar ekonomis penulis naik bus setelah tanya sana-sini dengan bahasa tarzan. Kedatangan pesawat mengalami keterlambatan. Setelah pesawat yang ditunggu mendarat, penulis mengajak Ismu dan isterinya naik bus ke hotel.
Undangan makan malam dari berbagai organisasi filateli menolong kantong kami. Tidak perlu keluar uang saku untuk makan. Suatu saat ketika dinner terjadi hal yang mengejutkan. Dinner yang disajikan bergaya buffet alias prasmanan menarik perhatian, hanya harus antri. Jenis makanannya bervariasi, sehingga kami bebas untuk mengambil yang diinginkan. Terlebih dahulu kami mengambil buah-buahan dan kue-kue di tempat yang agak kosong. Mungkin orang di sana melihat kami aneh, mengambil makanan cuci mulut dulu.
Setelah antrian agak berkurang kami mengambil piring dan menempatkan makanan dan lauk pauk satu per satu. Ketika hampir selesai ke ujung meja, kami terkejut melihat di piring besar ada kepala babi dengan saus dan berbagai lauk lainnya. Kontan selera makan kami hilang, batal untuk makan malam. Untungnya kami sudah banyak mengambil buah-buahan dan kue-kue.

Black Market.
Tiga hari kami sudah kehabisan barang filateli untuk dijual. Sedangkan pameran berjalan selama lima hari. Hari keempat penulis mencoba menukarkan mata uang Taiwan ke dollar Amerika. Tapi rupanya di negeri ini pengawasan devisanya sangat ketat. Mereka hanya mau melayani penukaran uang dollar ke uang Taiwan dan tidak sebaliknya. Mau dibawa pulang ke tanah air uang seperti ini tidak laku.
Penulis pulang ke hotel dan minta tolong kepada petugas hotel. Tapi mereka juga tidak mau membantu. Mereka bilang coba ke black market alias pasar gelap. Tanpa pikir panjang penulis naik taksi menuju alamat yang dituliskan dengan tulisan Cina. Sampailah penulis ke daerah serem dan kumuh. Penulis memasuki satu bangunan di bawah tatapan tajam mata sipit para lelaki “preman”. Sampai di satu meja penulis bilang penulis mau tukar uang dengan dollar. Tapi lelaki itu hanya menggelengkan kepala. Akhirnya penulis kembali ke hotel dengan rasa takut.
Terbayang dalam pikiran penulis bagaimana kalau uang hasil penjualan benda filateli itu dirampas mereka. Atau bahkan bisa saja mereka membunuh penulis karena mereka merasa tidak senang ada orang asing berani masuk ke daerah kekuasaannya. Atau bisa saja penulis ditangkap pihak berwajib di sana karena melakukan transaksi ilegal di daerah hitam itu.
Di hotel penulis minta tolong Suwito Harsono seorang juri filateli dari Indonesia yang mampu berbahasa mandarin. Atas bantuannya akhirnya uang itu dapat ditukarkan ke dollar. Itulah sekelumit catatan perjalanan yang menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. ***
 tdjuhanda at yahoo.com
 http://tjetjep1951.blogdetik.com

In Memoriam : G.M. MOELJOTO Bc.A.P Baru Selesai Menyusun Sejarah Pos Mancanegara

Kenangan  Tagged 1 Comment »

gm-moeljoto

JAJARAN Pos Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya, GM Moeljoto Bc.A.P., sosok yang lebih banyak menulis dari pada bicara ini berpulang di Bandung pada 25 Juli 2010. Mendiang pria  berusia 84 tahun ini dikebumikan keesokan harinya, 26 Juli 2010 di Tempat Pemakaman Umum Kristen Kerkoff Cimahi.

Moeljoto dikenal sebagai seorang penulis yang buah karyanya baik prosa maupun puisi sering kita jumpai di Merpatipos dan Purna Baktipos. Ia juga seorang penulis artikel maupun tulisan ilmiah yang handal. Bahkan beberapa hari sebelum meninggal Moeljoto baru selesai menyusun buku Sejarah Pos Mancanegara.  Kini Buku tersebut tengah dalam proses penerbitan. Sosok yang santun dan sering mengenakan topi khas bareta ini juga berhasil mengantarkan anaknya menjadi pengusaha di bidang industri kreatif T.Shirt C-59.

Moeljoto lahir di Solo 17 Oktober 1926 dan menghabiskan masa kecilnya hingga remaja di kota kelahirannya hingga menyelesaikan SMA tahun 1950. Selanjutnya ia pindah ke Bandung untuk mengikuti Pendidikan Tinggi PTT. Pada saat itu ada dua orang yang bernama Moeljoto di Pendidikan Tinggi PTT itu, bahkan keduanya tinggal di asrama yang sama yaitu di Jalan Malabar 48 Bandung. Temannya yang bernama Moeljoto tanpa huruf GM di kemudian hari kita kenal sebagai Direktur Utama Perum Pos dan Giro.

Setelah lulus Pendidikan Tinggi PTT Jurusan Administrasi Pos dan Telegrap Moeljoto bekerja di Banjarmasin sebagai Wakil Kepala Kantor Pos dan Telegrap Besar dari tahun 1955 sampai tahun 1957. Kemudian ia pindah ke  Surabaya menjabat sebagai Kepala Urusan Uang di Biro Kepala Daerah Pos III dari tahun 1957 sampai tahun 1959).

Tahun 1959  Moeljoto pindah ke Probolinggo dan menjabat sebagai Kepala Kantor Pos dan Telegrap hingga tahun 1961. Kepala Sentral Giro  Jakarta ia jabat dari tahun 1961 sampai tahun 1966. Selanjutnya Moeljoto pindah ke  Bandung sebagai Kepala Urusan / Pj. Kepala Bagian Operations Giro. Akhirnya ia menjabat Kepala Bagian Umum di Lemdik (Lembaga Pendidikan) Postel dan terus berlanjut menjabat Kepala Bagian Umum Pusdiklatpos (Pusat Pendidikan dan Latihan Pos dan Giro). Setelah itu ia menjabat sebagai Kepala Bagian Umum Litbangpos (Penelitian dan Pengembangan Pos dan Giro) sambil mengajar Dinas Giro Pos dan Sejarah Pos di almamaternya, Pusdiklatpos.

Demikian cintanya Moeljoto kepada instansi tempat kerjanya, ia menuliskan sebuah sajak yang dimuat di Buku Sejarah pos dan Telekomunikasi. Di bawah ini adalah sajak buah karyanya yang diberi  judul Pos  dan Telekomunikasi :

Pos dan Telekomunikasi

Postel Pembawa berita dan pengetahuan

Penyebar peradaban dan kebudayaan

Penghubung perdagangan dan perindustrian

Alat hayati dalam perekonomian;

Penganjur perdamaian dan persaudaraan

Pemupuk pendekatan dan persatuan dunia;

Penghibur teman yang kesepian

Tali silaturakhmi mereka yang berjauhan;

Pengikat kerabat yang terpisah-pisah

Pengembang kerja sama dan hidup bersama;

Dutanya cinta dan kesetiakawanan

Pemersatu insan dan bangsa-bangsa;

Pemintas jalan, jarak dan waktu

Pemercepat transmisi dan transaksi;

Perantara penyelesaian hutang pihutang

Saluran pembayaran yang serba guna;

Kazanah yang rapat bagi kepercayaan

Penyimpan rahasia surat dan percakapan

Pengawal lubuk hati nurani

Pengabdi setia kemanusiaan;

Pengemban kewajiban yang penuh keluhuran

Tempat kita layak dan asyik bekerja;

Postel urat syaraf yang penting sekali

Dalam Sistem Data Informasi

Bagi masyarakat, Pemerintah dan Pertahanan Negara

Untuk kesejahteraan dan keselamatan Bangsa

 

Moeljoto yang pensiun 1 November 1982 nampaknya tidak suka untuk berpangku tangan. Kegiatan menulis diantarana menjadikan pria lanjut usia ini masih tetap tampil bugar dan berpikir jernih. Buku-buku dan tulisan-tulisannya membuktikan bagaimana lelaki ini bisa berpikir runtut dan sistematis serta kritis. Buku “Pengantar Dinas Giropos”  dan “Dinas Giropos Sebagai Kasir Negara” adalah buah karyanya pada tahun 1970 ketika ia berdinas di Pusdiklatpos. Kemudian ia juga menerbitkan buku “Sursum Corda” (Tengadahkan Hatimu) : Kumpulan Puisi dan Prosa.

Moeljoto mengalami hidup di tiga zaman, yaitu di zaman Hindia Belanda, zaman pendudukan tentara Jepang dan zaman kemerdekaan Indonesia. Ia juga turut membidani lahirnya Buku Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Tokoh-tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan Pos dan Telekomunikasi di Indonesia dan buku 130 Tahun Prangko Indonesia.

Kini sang pujangga telah pergi dan tidak akan kembali. Tapi ia tetap hidup bersama kita sepanjang masa melalui buah karyanya yang jernih dan jujur. Jasadnya kini kaku ditelan bumi, tapi karyanya tetap abadi memberikan pencerahan bagi siapa saja, khususnya kelurga besar Pos Indonesia. ***

 

 

tdjuhanda@yahoo.com

www.tjetjep1951.blogdetik.com

 

In Memoriam H. SOETOMO BC.A.P. Pejuang Pembebasan Irian Barat

Tak Berkategori  Tagged No Comments »

SEORANG putera bangsa yang memiliki andil besar pada perjuangan pembebasan Irian Barat dari bangsa Belanda, H. Soetomo Bc.A.P. pada 27 Juli 2010 telah berpulang ke haribaan Allah SWT. Sosok bersahaja, sabar dan santun ini diantar keluarga, kerabat, teman seperjuangan, ke persada bumi pertiwi di pemakaman Sindanglaya, Bandung. Kepulangan pejuang Irian Barat ini menyiratkan rasa kehilangan yang besar bagi keluarga dan teman seperjuangan.soetomofot1
Soetomo lahir di Bandung pada 31 Oktober 1934 dari pasangan Rasman Muah dan Maemunah. Masa kanak-kanak Soetomo dijalani di desa Cilimus Garut. Ia memasuki HIS, sampai kelas II, kemudian Sekolah Rakyat sampai kelas IV di Bandung. Pada masa revolusi kemerdekaan bergejolak di tahun 1946, Soetomo bersama orang tuanya ikut mengungsi ke desa Situraja Sumedang dan ia menyelesaikan Sekolah Rakyat pada tahun 1948 di tempat itu. Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di SMP-A (Jurusan Sastra) Sumedang dan tamat pada ta¬hun 1951. Kemudian ia pindah ke Bandung, masuk SMA-C (Jurusan Sosial Ekonomi) dan lulus tahun 1954. Selesai pendidikan SMA, dengan mantap Soetomo menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan di Akademi PTT.

Corp Irian Barat (CIB) PTT
Pada tahun 1962 ketika Soetomo menjabat Wakil Kepala Kantor Pos Sukabumi, perjuangah merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda semakin gencar dikumandangkan. Soetomo yang saat itu belum berkeluarga merupakan salah seorang di antara lima ribu orang pegawai PTT yang terpanggil jiwanya untuk berjuang membebaskan Irian Barat dan ia mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Dari jumlah tersebut, hanya 226 orang pegawai PTT yang terpilih sebagai sukarelawan Irian Barat yang dikenal dengan sebutan Corp Irian Barat (CIB) PTT.
Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Penguasa Perang Tertinggi/Ketua Gabungan V Staf Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat Brigjen Basoeki Rachmat menetapkan pemberangkatan 89 komponen sipil ke daerah Mandala (garis depan) bagi perjuangan pembebasan Irian Barat. Salah seorang diantara 89 nama yang ditetapkan itu adalah Soetomo. Ke-89 komponen sipil itu berasal dari berbagai Departemen dan dua belas orang di antaranya adalah anggota CIB-PTT. Rombongan dibagi atas tiga team yakni Team I, Team II, dan Team III.
Soetomo yang masuk dalam Tim I diberangkatkan dengan Kapal Motor (KM) M.H. Thamrin. Pelayaran kapal ini benar-benar merupakan suatu petualangan yang berani dan juga merupakan perjuangan yang membanggakan bangsa Indonesia.Kapal sipil itu menuju medan laga yang demikian berat dan sulit seperti Irian Barat, tanpa pengetahuan dan perlengkapan senjata. Dari keempat anggota CIB-PTT di kapal itu hanya J.A. Zacharias, temannya yang memiliki sepucuk pistol. Keselamatan jiwa mereka semata-mata hanya diandalkan kepada keberhasilan ABRI dalam mematahkan perlawanan Belanda secara mutlak.
Operasi penyusupan yang dilakukan dengan menggunakan KM M.H. Thamrin ini merupakan bagian dari Operasi Djajawidjaja yang rencana kegiatannya ditetapkan pada tanggal 18 Mei 1962. Komando Mandala yang menggerakkan operasi-operasi pembebasan Irian Barat menentukan sasaran penting yang harus dikuasai:
Pertama, sasaran pokok ialah Biak, sebagai pusat pertahanan militer musuh. Kedua, sasaran antara adalah Fak-fak, Kaimana, Kotabaru (kemudian bernama Jayapura) dan Merauke. Ditentukan pula bahwa Kotabaru dan Kaimana sebagai sasaran Politik. Biak, Sorong dan Kaimana sebagai sasaran militer, dan Merauke sebagai sasaran psikologis. Kepulauan Banggai yang terletak sekitar 900 mil dari sasaran pokok Biak ditentukan sebagai Daerah Kumpul I sebelum operasi pendaratan di Irian Barat dilancarkan.

Brigade Pembangunan Irian Barat.
Hari H pendaratan ditentukan tanggal 12 Agustus 1962, namun, dengan adanya perkembangan baik di bidang diplomasi dimana terlihat adanya kesediaan Belanda untuk berdamai, maka Panglima Mandala Mayjen Soeharto yang tiba di Daerah Kumpul I Banggai pada tanggal 5 Agustus 1962 menyampaikan bahwa keputusan Hari H diundurkan menjadi H + 14. Dalam operasi Djajawidjaja tersebut digunakan 41 kapal transport, 7 kapal tanker, 3 kapal rumah sakit, 3 kapal LST (angkutan kendaraan berat), 5 helikopter, 6 pesawat terbang penolong. Operasi Djajawidjaja ini diperkuat oleh kesatuan-kesatuan terjun udara yang terdiri dari kesatuan tempur (KT) “Parikesit” (dari Morotai), KT “Wisanggeni” (dari Madiun), dan KT “Anggada” (dari Halim meliputi sejumlah besar pesawat dan helikopter). Kekuatan ini masih diperkuat lagi dengan kapal selam dan torpedo.
Operasi besar-besaran yang disiapkan di Indonesia Bagian Timur ini rupanya membuat kecut nyali Pemerintah Belanda untuk berperang di kawasan yang demikian jauh dari negaranya. Akhirnya Belanda meninggalkan sikap kepala batunya, menerima dan menandatangani Perdamaian New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Belanda berjanji mengembalikan Irian Barat hingga perjuangan bersenjata dengan Belanda tidak diperlukan lagi.
Di atas KM. Thamrin, di perairan Kepulauan Banggai, Soetomo beserta kawan-kawan yang baru saja menerima berbagai latihan militer menerima berita perdamaian itu dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Tanggal 11 September 1962 pukul 10.30 pagi setelah hampir dua bulan berada di tengah lautan luas, Soetomo dan kawan-kawan mendarat kembali di Tanjung Priok. Hari itu juga menghadap dan menerima ucapan terima kasih dari Ketua Gabungan V/KOTI Mayjen Basoeki Rachmat.
Namun, Soetomo tidak dapat beristirahat lama. Awal Oktober 1962 datang lagi perintah bahwa ia termasuk dalam rombongan pertama yang harus secepatnya berangkat kembali ke Irian Barat melaksanakan tugas sebagai Anggota Brigade Pembangunan dari unsur Corp Irian Barat (CIB) PTT. Selain Soetomo, ikut dalam rom¬bongan pertama itu dua belas orang rekannya dari unsur Pos. Mereka diberangkatkan dengan pesawat udara Electra tanggal 5 Oktober 1962.

Pemerintahan UNTEA
Jabatan yang dipercayakan kepada Soetomo pada masa pemerintahan peralihan UNTEA (Pemerintahan sementara PBB) adalah sebagai Kepala Bagian Pertanggungan Uang Pos pada PTT UNTEA dan PTT RI. Jabatan itu diambilalihnya dari Driesen (Indo Belanda). Berbeda dengan pengambilalihan bidang telekomunikasi, pengambilalihan bidang pos berjalan lancar. Malahan Soetomo pada waktu membicarakan tata-cara pelaksanaan serah-terima bidang pos PTT UNTEA dengan EWG PORTIER penuh luapan rasa haru karena EWG Portier adalah bekas dosennya sewaktu kuliah di Akademi PTT Bandung dulu.
Sebagai orang yang pernah lama hidup di Indonesia dan merasakan budi baik orang Indonesia, EWG Portier sebenarnya dapat merasakan kebenaran perjuangan rakyat Indonesia mengembalikan Irian Barat serta bersimpati atas perjuangan tersebut. EWG Portier kemudian menjadi warga negara Australia. Hubungan kerja Soetomo dengan sisa-sisa pegawai Belanda lainnya yang dipekerjakan pada UNTEA cukup baik, kecuali dengan seorang akuntan bernama H. Baart yang bersikeras hendak membawa sisa-sisa prangko UNTEA ke Negeri Belanda. Soetomo tidak memberikannya dan mengharuskan prangko-prangko itu dibinasakan di bumi Pertiwi. Sisa prangko UNTEA tersebut akhirnya dibinasakan di Hollandia (Jayapura). Cara pemusnahan prangko itu yaitu ditenggelamkan di laut Pasific dan ada pula yang dibakar.
Waktu Soetomo mengadakan peninjauan ke Sorong, kota minyak itu dalam keadaan mati karena sepuluh ribu buruh minyak di kota itu telah pergi, Hotel Negara ditutup, satu-satunya pesanggerahan swasta yang kecil dan sederhana telah penuh dengan tamu.
Soetomo di Sorong bertemu dengan Ir. M.J. Sahertian (Kepala PTT UNTEA) ser¬ta A. Latif Mantikaraja (Kepala Pos UNTEA) yang terpaksa sama-sama menginap di sebuah gudang, bersebelahan dengan kandang babi. Mata para pejabat penting PTT UNTEA dan PTT Indonesia itu sulit dipejamkan untuk beristirahat karena diganggu dengusan babi.
Selama bertugas di Irian Barat Soetomo sempat pula ikut mengajar Pendidikan PTT dalam rangka mencerdaskan putera-putera Irian Barat.
Dengan berakhirnya tugas UNTEA, dan kembalinya Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963, maka berakhir pula tugas Soetomo dalam mengabdikan dirinya bagi perjuangan pembebasan Irian Barat yang heroik dan penuh kenangan.

Merintis Sentral Giro H Palembang.
Setelah selesai bertugas di Irian Barat, Soetomo mendapat kepercayaan untuk menjadi Staf Direktur Muda Pos, Kepala Biro Direktorat Giro dan Lalulintas Uang di Kantor Pusat P.N. Postel/P.N. Pos dan Giro di Bandung yang dijabatnya dari tahun 1963 sampai dengan 1967. Kemudian pa¬da bulan Nopember 1966 sampai dengan Pebruari 1967 ia ditugaskan mempersiapkan dan membuka Kantor Sentral Giro H. Palembang, termasuk mendidik para calon pegawai dan menyiapkan perlengkapan kantornya, bahkan ia menjadi Pejabat Sementara Kepala Kantor tersebut.
Pengalaman Soetomo cukup matang sebagai Kepala Bagian Pertanggungan Uang Pos di Irian Barat dan jasa-jasanya dalam membidani lahirnya Kantor Sentral Giro H Palembang telah mengantarkan Soetomo kepada jenjang karier yang lebih tinggi yakni sebagai Kepala Kantor Sentral Giro E Bandung dari tahun 1967 sampai ta¬hun 1972 kemudian sebagai Kepala Kantor Sentral Giro F Semarang dari tahun 1972 sampai dengan 1977.
Karier Soetomo yang demikian lama sebagai Kepala Sentral Giro beralih pada Kantor Daerah Pos dan Giro, dimulai dengan jabatan sebagai Kepala Bagian Exploitasi Daerah Pos dan Giro III di Surabaya pada tahun 1978. Setelah setahun lamanya pada jabatan tersebut, tahun 1979 Perum Pos dan Giro memberinya kepercayaan untuk menjadi seorang Kepala Daerah Pos dan Giro di Maluku. Tiga tahun lamanya Soetomo menduduki jabatan ini (September 1979 sampai 1983), kemudian mendapat kehormatan untuk menjadi Kepala Daerah Pos dan Giro X Nusa Tenggara di Bali yang membawahkan Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur. Setahun kemudian (21 Juli 1984) ia ditugaskan di kawasan yang lebih padat dan lebih luas yakni seba¬gai Kepala Daerah Pos dan Giro VIII yang wilayahnya meliputi Jawa Barat dan Kalimantan Barat.
Soetomo memiliki berbagai tanda jasa termasuk piagam Penghargaan “Satyalancana Satya Dharma” Perjuangan Pembebasan Irian Barat dan piagam-piagam lainnya. Ia pernah mendapat kenaikan pangkat istimewa pada tahun 1972. Dari perkawinannya dengan Siti Atidjah yang berasal dari Sumedang, Soetomo dikaruniai lima orang anak, yaitu dua orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan.
Pejuang Pembebasan Irian Barat itu kini telah memenuhi panggilan Sang Pencipta, Allah SWT untuk beristirahat panjang. Tunai sudah tugas bakti putera bangsa yang tak kenal lelah dan tanpa pamrih ini. Pada negeri ini ia berjanji, pada negeri ini ia mengabdi, bagi negeri ini ia persembahkan jiwa raganya. Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. ***
Sumber : Tokoh Tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan Postel di Indonesia.
 tdjuhanda at yahoo.com
 

SMS DARI NDDP ?

Tak Berkategori  Tagged No Comments »

Bahasa sms Transformasi dari Bahasa nddp ?

BAHASA sms kini demikian berkembang sejalan dengan berkembangnya telepon genggam. Bahasa dengan kata-kata yang disingkat ini juga muncul di jalur maya pada kegiatan chatting, mesenger bahkan facebook atau twitter. Bahasa seperti ini di perusahaan kita serupa dengan nddp (nota dinas dengan pos) di era sebelum tahun 1975-an. Mungkinkah bahasa nddp yang dianggap jadul itu kini kembali lagi ? Atau bahasa sms itu diinspirasi (inspiring) oleh bahasa nddp ?
hrp bthk ken mp kpd agt ttk tht jan mp naik 6% du enam persen kma bthk pens d tmpt sdr ttk lapk plksn kpd km tthbs
pp ppos+++
Begitulah kira-kira tulisan nddp yang arti lengkapnya adalah :
Harap beritahukan kenaikan manfaat pensiun kepada anggota. Terhitung Januari manfaat pensiun naik 6% diulang enam persen, beritahukan pensiunan di tempat Saudara. Laporkan pelaksanaannya kepada kami. Pengurus Pusat Persatuan Pensiunan Pos.
Tulisan yang dimuat di atas secarik kertas padalarang agak kuning dengan ketikan mesin tulis yang sebagian hurufnya gompal itulah model surat yang biasa penulis temui di saat awal masuk kerja di perusahaan ini. Huruf yang semuanya kecil tidak ada huruf kapital tanpa titik koma dan tanpa cap dan tanda tangan sungguh membingungkan bagi penulis.
Lebih bingung lagi kata-kata nddp itu sering muncul dalam percakapan diantara para pejabat kita waktu, sehingga orang awam menyangka kita bekerja di bagian intelejen. Obrolan dengan kata-kata nddp seperti kita bicara dengan kata-kata sandi intelejen bagi orang luar. Mereka melongo mendengarkan obrolan kita seperti itu. Dan bagi kita obrolan bergaya nddp sudah biasa kala itu. Bahkan bertelepon ria dengan bahasa nddp kala itu antar para pejabat kita adalah hal yang biasa.
Misalnya sepenggal obrolan seperti ini : “ Kenga dia sudah beres, kalau kenpa tahun depan, soalnya kena hubdis. Uang pakser tidak bisa ditahan. Bsu-nya belum ditentukan, tunggu nddp dari kapeg” di kalangan para pensiunan adalah biasa, dan masih dapat dipahami.

Bahasa sms.
Bahasa nddp yang populer di perusahaan kita di era sebelum tahun 1975-an kini muncul kembali di kalangan anak muda. Bahasa chatting dan sms serta messenger di kalangan remaja saat ini.
Penulis yang remako alias remaja kolot kalau mengirim berita duka atau berita sakit lewat sms kepada para pensiunan sering menggunakan bahasa nddp ini. Maksudnya biar ngirit pulsa dan yakin para pensiunan dapat memahami. Biasanya penulis menulis sms sperti ini : “ Mnggl dna hi bu Partijem jd p Pulan. Renc pmkmn bsk di tpu Cikutra bada dhr. Rumduk jl Ciawitali 3 bdg. “ atau “ P Usro sakit drwt di rs Brms kmr 1302 “
Beruntung penulis mengalami jaman nddp dulu, sehingga menyingkat kata-kata untuk sms tidak terlalu sulit. Kasarnya nggak kalah dengan anak muda dewasa ini. Bahkan sms-an atau chating dengan para belia menggunakan bahasa yang disingkat-singkat bisa juga gitu lho.
Tapi kalau dilihat sopan santun, memang bahasa nddp dan bahasa sms nggak pas. Selain bisa ditafsirkan macam-macam tulisan itu tidak pake salam, pembuka dan penutup serta tidak pake basa-basi. Tapi bagi para pensiunan kita yang dulu sudah terbiasa ber-nddp ria pasti sudah maklum. Yang penting subtansinya tersampaikan.
Dengan demikian sesungguhnya para pensiunan yang mengalami jaman bahasa nddp, mestinya familiar dengan sms sekarang. Bahkan bisa jadi jagonya ber-sms sekarang ini.

Kendala.
Tapi kenyataannya tidak begitu. Ketika penulis membuka kesempatan untuk mengirimkan nomor hp-nya untuk dimasukkan dalam sms-list, sangat sedikit pensiunan yang merespon. Bahkan beberapa pensiunan ketika dikirim sms balik menelepon panjang lebar maksudnya apa. Ujung-ujungnya mengungkapkan tidak bisa mengirim sms. Tapi ada juga yang mengatakan dirinya tidak bisa mengirim sms tapi bisa menerima sms. Oleh karena itu ia menyatakan senang dikirimi sms sekalipun tidak bisa membalasnya.
Kendala yang dihadapi para pensiunan yang sudah sepuh adalah keterbatasan fisik. Jari tangan tidak selincah masa muda dulu manakala memijit-mijit tombol hp. Mata juga banyak yang sulit membaca layar hp karena keterbatasan daya lihatnya. Menerima telepon pun sudah banyak yang susah karena pendengaran terganggu. Sebagian ada yang mengatakan dirinya gaptek alias gagap teknologi. Itu semua faktor usia yang tidak bisa dihindari.
Bagaimanapun belajar adalah proses sepanjang hayat. Kita harus terus belajar dan berihtiar agar tetap survive. Kita tidak dapat mehindari kodrat menjadi tua, tapi kita dapat menunda tanda-tanda ketuaan menghampiri kita. Ayo kita pasti bisa. ***
 tdjuhanda at yahoo.com  href=”http://www.tjetjep1951.blogdetik.com” title=”http://www.tjetjep1951.blogdetik.
” target=”_blank”>www.tjetjep1951.blogdetik.com

—ooOoo—